Senin, 11 April 2022

Wisdom From The Elders

 

Whoever loves God far more than himself, or rather no longer loves himself but only God, no longer vindicates his own honour; for his sole wish is that the divine righteousness, which has accorded him eternal honour, should alone be held in honour. This he no longer wishes in a half-hearted way, but with the force of an attitude established in him through his deep experience of the love of God. St. Diadochus, bishop of Photike in Epirus

Whatever you do to avenge yourself against a brother who has done you a wrong will prove a stumbling-block to you during prayer. Evagrios the Solitary

Let us seek out, then, the speck of faith that remains through our sin and our blindness. The Lord will make of it a seed capable of planting Eden in the heart. Bishop Irenei Steenberg

Gifts of Grace are given only to those who work for them by constantly guarding their souls. Elder Thaddeus(Strabulovich) of Vitovnica

Nevertheless, the demons’ power is no power. They exercise force through deception and wield a sword through a lie. This is why our Holy Fathers instruct us that their defeat is so easy. By the simple sign of the precious Cross, the demons and all their terror can be put to flight. Bishop Irenei Steenberg

Jumat, 07 April 2017

Palm Sunday

Palm Sunday 


On Sunday, five days before the Passover of the Law, the Lord came from Bethany to Jerusalem. Sending two of His disciples to bring Him a foal of an ass, He sat thereon and entered into the city. When the multitude there heard that Jesus was coming, they straightway took up the branches of palm trees in their hands, and went forth to meet Him. Others spread their garments on the ground, and yet others cut branches from the trees and strewed them in the way that Jesus was to pass; and all of them together, especially the children, went before and after Him, crying out: "Hosanna: Blessed is He that cometh in the Name of the Lord, the King of Israel" (John 12:13). This is the radiant and glorious festival of our Lord's entry into Jerusalem that we celebrate today.

The branches of the palm trees symbolize Christ's victory over the devil and death. The word Hosanna means "Save, I pray," or "Save, now." The foal of an ass, and Jesus' sitting thereon, and the fact that this animal was untamed and considered unclean according to the Law, signified the former uncleanness and wildness of the nations, and their subjection thereafter to the holy Law of the Gospel.

Jumat, 31 Maret 2017

Belajar Dari Berbagai Hal Yang Terjadi






Setiap peristiwa yang terjadi, didalamnya mengandung sebuah pelajaran yang berguna bagi setiap orang yang berharap  untuk mendapat pelajaran dari pengalaman dalam hidup, dan yang berhasrat untuk menjadi seorang murid. Bukan hanya berguna bagi orang yang saleh, tapi juga mereka yang tidak percaya. Semua dapat belajar dari apa yang terjadi diatas dunia.
Waktu Raja Xerxes membaca buku sejarah, yang mencatat masa pemerintahannya, jiwanya terpengaruh oleh apa yang ia baca. Dan itu ternyata menjadi alasan bagi keselamatan seluruh rakyatnya. (Ester 6). Peristiwa-peristiwa mengilhami perasaan tertentu, yang memimpin pada aksi tuntunan rohani dalam mereka yang terpengaruh darinya. Saya ingin agar kita juga dapat membayangkan bagaimana tangan Allah bertindak dalam semua hal yang terjadi pada kita, dan sekitar kita, sebagai individu dan sebagai kelompok.
Kita dapat belajar tentang Allah dengan melihat bagaimana Ia bertindak, bagaimana dan kapan Ia campur tangan, bagaimana Ia mengubah dari jelek menjadi baik, dan bagaimana Ia menata peristiwa-peristiwa dunia dalam hikmat, mengombinasikan kekebasan yang Ia berikan kepada manusia, dengan ketetapan Ilahi, yang mengatur keadilan di bumi.
Kita dapat belajar pelajaran-pelajaran dari perlindungan dan perhatian Allah, dari keadilan Allah, dan dari kesabaranNya. Nabi Daud menuliskan kejadian-kejadian yang terjadi pada masanya. Ia mengidungkan tentang kejadian itu dalam Mazmur-Mazmur. Dan lagu kebangsaan Israel dalam Kitab Jashar. (2 Sam. 1:18), dan lihat juga, (Yosua 10:13). Ini adalah pelajaran-pelajaran bagi manusia, seperti kejadian-kejadian yang Yosua kidungkan.
Jadi pikirkan, dan meditasikan semua hal yang terjadi padamu.
Belajar dari pengalaman-pengalaman ini, dan taruh pelajaran-pelajaran dalam hatimu,  seperti yang diceritakan tentang Perawan Maria, bahwa Ia”…menyimpan semua hal ini dalam hatinya.” (Lukas 2:51). Dan jangan lupa peringatan-peringatan yang telah diberikan kepadamu ini, karena peringatan itu seperti peringatan khusus yang dibuat Tuhan Allah untuk kejadian-kejadian khusus, dengan maksud agar manusia tidak melupakan mereka, seperti batu-batu yang mereka taruh di tengah sungai Yordan, sehingga orang-orang Israel tidak akan melupakan batu itu yang suatu kali terbelah membuat mereka dapat menyebrang (Yosua 4:9).
Ada cerita tentang menyebrangi Laut Merah, dan cerita tiga anak muda didalam dapur api, yang Gereja masukkan dalam doa tengah malam, sehingga kita mengidungkan mereka setiap hari, dan dapat belajar dari satu pelajaran dalam iman, dan satu pelajaran dalam bagaimana Allah memperhatikan dan melindungi. Dan ada, tentunya, cerita-cerita lain selain dua cerita ini.

Jumat, 17 Maret 2017

Doa Untuk Orang Mati di Gereja Orthodox

DOA UNTUK ORANG MATI
Dalam Gereja Orthodox

Kalender Gereja kita menyelenggarakan banyak kesempatan untuk kita melihat kenyataan dari kematian: Jumat Agung. Hari Minggu: Paskah kecil – perayaan kemenangan KRISTUS atas kematian.
Sabtu jiwa-jiwa adalah perayaan khusus dalam kalender Gereja setiap tahun yang diselenggarakan, untuk kita hadapai kenyataan kematian. Misalnya dua Sabtu jiwa-jiwa sebelum puasa agung dan satu Sabtu sebelum Pantekosta. Pada hari Sabtu ini Liturgi Suci dirayakan dan doa khusus untuk orang-orang yang kita cintai, namun telah meninggal.
Kita berdoa untuk orang mati khususnya setiap Sabtu karena pada hari sabbat KRISTUS berbaring dikubur, “Istirahat dari semua karyaNya dan hancurkan kematian oleh kematian”. Jadi didalam Perjanjian Baru, hari Sabtu menjadi hari khusus untuk mengenang orang-orang yang telah meninggal dan mendoakan mereka.
Ada dua pertanyaan tentang praktek mendoakan orang mati yang dimiliki oleh kaum Orthodox ini:
1.      Apa sebab kita mendoakan orang mati?
2.      Apa yang kita harapkan dari doa-doa ini?


Apa sebab kita mendoakan orang mati?
Kekristenan adalah kehidupan karena kasih. Mendoakan orang yang telah meninggal adalah pernyataan kasih. Kita mohon kepada ALLAH untuk mengingat orang-orang kita yang telah meninggal, karena kita mengasihi mereka. Gereja mendorong kita untuk expresikan kasih kita kepada mereka yang telah meninggal melalui perayaan peringatan dan doa-doa.
Hari ulang tahun kematian dari seorang yang kita kasihi membuat kita ingat dan sangat sedih. Gereja dorong kita untuk hadapi kesedihan ini dengan upacara peringatan yang dilakukan Gereja pada hari peringatan kematian untuk orang yang kita kasihi namun telah meninggal.
©      Peringatan hari ketiga setelah kematian,
©      Peringatan hari kesembilan setelah kematian,
©      Peringatan 40 hari setelah kematian,
©      Peringatan 6 bulan setelah kematian,
©      Peringatan 1 tahun setelah kematian.
Inilah kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi mereka yang kita kasihi. Ini sangat membantu untuk menyembuhkan kesedihan kita.
Kematian menghilangkan seseorang dari penglihatan kita, tapi tidak bisa menghilangkannya dari hati dan pikiran kita. Kita meneruskan kasih dan pikiran kita pada mereka karena kita percaya bahwa mereka juga terus mengasihi dan memikirkan kita.
Bagaimana mungkin seorang ibu lupa akan anaknya yang beralih pada hidup lain? Karena dalam KRISTUS semua hidup. Semua komunikasi terjadi karena dan melalui KRISTUS. Tidak ada yang lain.
ALLAH adalah ALLAH yang hidup. Orang yang kita kasihi hidup didalam Dia, hanya lewat Dia ada kemungkinan bagi kita untuk berkomunikasi dengan mereka. Setiap Liturgi suci didalam Gereja Orthodox berisi doa-doa untuk orang mati.
Kita berdoa untuk orang mati, karena kita yakin, mereka juga terus mengasihi kita, ingat pada kita, dan sekarang berdoa untuk kita karena mereka lebih dekat dengan Allah.
Contohnya: Perumpamaan orang kaya yang di neraka meminta pada Abraham untuk mengirim Lasarus kepada saudara-saudaranya yang masih ada di bumi, agar mereka tidak masuk ke tempat dimana dia tinggal/rasakan sekarang ini.
Gereja Orthodox berdoa untuk orang mati untuk expresikan bahwa semua orang yang sudah mati dalam TUHAN, tinggal didalam Dia (Kol. 3:3).
Baik di bumi ataupun di surga, Gereja adalah satu keluarga tunggal, satu tubuh dalam KRISTUS. Kematian merubah tempat, tapi tidak bisa memutuskan ikatan kasih.

Apa yang kita harapkan dari doa-doa kita untuk orang mati?
Kita tunggu pengadilan terakhir maka tidak berharap bahwa oleh doa-doa kita orang yang tidak percaya keluar dari tempat siksaan kedalam paradiso. Hidup kita sekarang menunjukkan tujuan akhir kita. Sekarang waktunya untuk kita bertobat dan menerima rahmat ALLAH. Karena itu TUHAN  bersabda: Bekerja selagi siang karena malam akan datang dan tidak ada orang yang akan bekerja. Siang berarti waktu sekarang, saat itu masih ada kemungkinan untuk percaya, tulis Yohanes Krisostomus, sementara malam adalah keadaan sesudah kematian.
Apa yang terjadi didalam kuburan itu, seluruhnya ada pada ALLAH, orang beriman pasrahkan hidupnya pada ALLAH. Baik juga bagi mereka untuk pasrahkan nasib mereka yang sudah meninggal pada ALLAH yang kaya akan belas kasihan dan lebih tahu dengan baik apa yang mereka butuhkan. Kita yakin bahwa doa-doa sungguh membantu kita yang berdoa bagi orang-orang yang telah meninggal. Mereka mengingatkan kita lagi bahwa kita juga akan meninggal dunia. Doa untuk orang mati meneguhkan iman kita akan hidup yang akan datang; mereka tolong kita untuk berharap akan belas kasihan ALLAH: mereka membangun kasih bersaudaraan diantara mereka yang masih hidup. Doa ini siapkan kita untuk akhir perjalanan kita dimana kita akan bersatu dengan orang-orang kita yang telah meninggal dan bimbing kita kedalam kehadiran ALLAH.
Doa ini mengingatkan kita bahwa sekarang adalah saatnya untuk perkembangan moral dan penyempurnaan, untuk iman, pertobatan dan kasih. Inilah saatnya untuk mencari mahkota kebenaran yang mana TUHAN, hakim yang benar, akan hadiahkan pada mereka yang telah melakukan perjuangan baik, menghadiri pertandingan dan tetap percaya.

Satu Kebiasaan Yang Penuh Arti


Adalah kebiasaan Orthodox untuk membawa Colyva, gandum yang telah direbus ke dalam Gereja untuk Upacara Peringatan. Gandum expresikan kepercayaan akan kehidupan kekal. YESUS KRISTUS bersabda: “Jika biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati ia akan menghasilkan banyak buah”(Yoh. 12:24). Sama seperti hidup baru tumbuh dari gandum yang ditanam ditanah, demikian juga orang yang ditanam, pada suatu hari akan bangkit untuk satu kehidupan baru bersama ALLAH.
Gandum ditutup dengan gula untuk menunjukkan manisnya hidup kekal bersama ALLAH di surga. St. Paulus menuliskan bahwa, “Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan……” (I Kor. 15:42-44).
Upacara doa peringatan membenarkan kenyataan dari kematian fisik dan juga kenyataan kebangkitan ke dalam hidup kekal memainkan peranan yang penting dalam penyembuhan kesedihan orang-orang Orthodox.
Nama orang-orang yang sudah meninggal diingat dalam doa pada setiap perayaan Liturgi. Nama diberikan kepada Imam kalau di kehendaki, tidak hanya yang mati, tapi juga nama-nama yang hidup.
Daftar dibuat dua kolom:
-          Orang hidup
-          Orang yang tidur dalam TUHAN
Daftar ini diberikan kepada Imam sebelum Liturgi.
Pada peringatan hari Sabtu, kidung Liturgis dan doa-doa untuk semua orang mati. Namun, doa litany khusus untuk orang-orang mati yang namanya diberikan kepada Imam oleh anggota Paroki.


* * * * * * *